truth


counters

nama

Saturday, 16 January 2016

Teori Perilaku dan Teori Pengetahuan

A.    Perilaku
1.      Pengertian
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan  atau aktifitas manusial, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2012).
                  Berdasarkan Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlakukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsanga. Dengan demikian, maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Bimo, 2001).
2.      Macam – macam perilaku
                  Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.       Perilaku tertutup (covert behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.  
b.      Perilaku terbuka (overt behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk nyata atau terbuka  (covert). Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Oleh sebab itu disebut overt behavior, tindakan nyata atau praktik (practice).
1.      Domain Perilaku
      Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor – faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni.
a.       Determinan atau faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan, yakni bersifat given atau bawaan, misalkan : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
b.      Determinan atau faktor eksternal, yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang mewarnai perilaku seseorang.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Green mencoba menganalisi perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non- behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk tiga faktor.
a)      Faktor – faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai – nilai, dan sebagainya.
b)      Faktor – faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersediannya fasilitas – fasilitas atau sarana – sarana kesehatan. Misalnya puskesmas, obat – obatan, alat – alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.
c)      Faktor – Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersedian fasilitas, sikap, dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku (Notoatmodjo, 2012).


B.    Pengetahuan
1.      Pengertian
Pengetahuan adalah hasil ‘’tahu’’ dan ini terjadi setelah orang mengadakan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terhadap suatu objek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo,2003).
                  Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan,bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan non formal saja, akan tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan ojek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. Menurut teori WHO ( World Health Organization ) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri.
2.      Tingkat Pengetahuan
                  Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang cukup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu : (Notoadmodjo,2003)
a.       Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu” tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.


b.      Memahami (Comprehention)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahuai dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang di pelajari.
c.       Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atupun kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d.      Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain.
e.       Sintesis ( Syntesis)
Sintesis yang dimaksud menunjukan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

f.       Evaluasi ( Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan  kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdsasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
3.      Cara Memperoleh Pengetahuan
                  Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari Notoatmodjo, 2003:11 adalah sebagai berikut :
a.       Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
1)      Cara coba salah (Trial and Error)
      Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
2)      Cara kekuasaan atau otoritas
      Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri.
3)      Berdasarkan pengalaman pribadi
      Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.
b.      Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih populer atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.
4.      Proses perilaku “TAHU”
Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung dari maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni:
a.       Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)
b.      Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian dan tertarik pada stimulus.
c.       Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini bararti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d.      Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru
e.       Adaption, dan sikapnya terhadap stimulus
5.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
a.       Faktor Internal
1)      Pendidikan
      Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menunjukkan cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misal hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup menurut YB Mantra yang dikutip Notoadmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam, 2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah memperoleh informasi.
2)      Pekerjaan
      Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan tetapi lebih banyak cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
3)      Umur
      Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur tingkat kematamgan dan berfikir seseorang akan lebih matang dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan menjadi pengalaman kematangan jiwa.
b.      Faktor Eksternal
1)      Faktor Lingkungan
      Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam (2003) lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan orang atau kelompok.
2)      Sosial Budaya

      Secara sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.




Teori Dukungan Keluarga dan Teori Dukungan Suami

Dukungan Keluarga
1.      Pengertian
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dukungan yang berarti sokongan dan bantuan. Dukungan dalam penentuan sikap seseorang berarti bantuan atau sokongan dari orang terdekat untuk melakukan kunjungan ulang. Merujuk pada teori Buffering Hipothesis yang berpandangan bahwa dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan cara melindungi individu dari efek negatif. Dukungan keluarga yang diberikan kepada ibu balita dapat menumbuhkan perasaan senang, aman, dan nyaman sehingga dapat mempengaruhi kemauan ibu untuk membawa balitanya ke posyandu. Dukungan keluarga terutama dukungan yang didapatkan dari suami akan menimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri ibu sehingga dapat melakukan pemantauan tumbuh kembang balitanya dengan membawa keposyandu secara teratur (Depkes RI, 2010).
                  Adanya orang yang menganjurkan, membantu dan mengantar dalam upaya mendapatkan pelayanan kesehatan juga sangat berpengaruh terhadap kunjungan ke pelayanan kesehatan khususnya posyandu (Azwar, 2005).
                  Keluarga yang sehat akan mencari jalan untuk membantu mencapai potensi kesehatan yang lebih tinggi. Pendekatan yang menyenangkan dari orang yang berarti dari lingkungan yang simpatik dan bersahabat akan membawanya kepada pembinaan lingkungan dan emosi, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan keinginan untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan. Dorongan dan anjuran dari orang dekat dan anggota keluarga untuk mencari pengobatan akan berpengaruh besar terhadap keinginan dan motivasi untuk mendapatkan jasa pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2005).
2.      Bentuk dukungan sosial
                  Konsep operasional dari dukungan sosial adalah perceived support (dukungan yang dirasakan), yang memiliki dua elemen dasar diantaranya adalah persepsi bahwa ada sejumlah orang lain dimana seseorang dapat mengandalkannya saat dibutuhkan dan derajat kepuasan terhadap dukungan yang ada. Dukungan dapat dibagi menjadi lima bentuk, yaitu :
a.       Dukungan emosional (emotional support)
Bentuk dukungan emosional yang dapat diberikan seperti ekspresi empati dan perhatian terhadap individu. Dukungan tersebut dapat memberikan rasa aman, dan dicintai agar individu dapat menghadapi masalah dengan baik. Dukungan ini sangat penting diberikan pada individu dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol. Sumber terdekat dukungan emosional adalah keluarga. Dukungan keluarga tersebut memiliki arti yang signifikan dalam kehidupan seseorang.
b.      Dukungan penghargaan (esteem support)
Bentuk dukungan penghargaan dapat diberikan melalui dorongan atau persetujuan terhadap gagsan atau perasaan individu serta perbandingan positif dengan individu lain. Dukungan penghargaan ini dapat membantu individu dalam meningkatkan harga diri, serta membangun harga diri dan kompetisi.
c.       Dukungan instrumental (instrumental support)
Dukungan instrumental merupakan bentuk dukungan langsung dan nyata. Dukungan yang diberikan dapat berupa penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, barang, makanan serta pelayanan. Dukungan ini dapat membantu individu mengurangi takanan karena dapat langsung digunakan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan materi.
d.      Dukungan informasional (informational support)
Bentuk dukungan informasional adalah pemberian informasi terkait dengan hal yang dibutuhkan individu. Sebagai makhluk social, manusiatidak bisa menghindar dari berhubungan dengan orang lain. Dalam berhubungan dngan orang lain, manusia mengikuti system komunikasi dan informasi yang ada. System dukungan informasi mencakup pemberian nasihat, saran serta umpan balik mengenai keadaan individu. Jenis informasi yang dapat diberikan seperti menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
e.       Dukungan jaringan (network support)

Pemberian dukungan jaringan dapat membuat individu merasa anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial. Dukungan ini melibatkan rasa kebersamaan satu sama lain serta meningkatkan rasa saling memiliki.



1.      Dukungan Suami
a.       Pengertian
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Dukungan adalah orang yang mendukung, penunjang, penyokong, pembantu. Sedangkan suami adalah pria yang menjadi pasangan istri. Sehingga dukungan suami dapat didefinisikan sebagai bantuan yang diberikan oleh suami. Bantuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bantuan yang diberikan oleh suami terhadap istri dalam memutuskan dan memilih menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang.

Menurut Friedman (1998) dalam Prasetyawati (2011), Dukungan suami adalah dorongan yang diberikan oleh suami berupa dukungan moril dan materiil dalam hal mewujudkan suatu rencana yang dalam hal ini adalah pemilihan kontrasepsi. Dukungan suami membuat keluarga mampu melaksanakan fungsinya, karena anggota keluarga memang seharusnya saling memberikan dukungan dan saling memperhatikan keadaan dan kebutuhan kesehatan istri.

b.       Mekanisme Dukungan
Akhirnya, Cohen & McKay (1984) menampilkan suatu model kondisi-kondisi dimana jaringan dukungan seseorang akan menurun atau mencegah stres. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa jaringan sosial memberikan “efek penyangga” terhadap kejadian-kejadian yang penuh stres. Ada tiga tipe mekanisme dukungan :
1)      Dukungan Nyata
Meskipun sebenarnya setiap orang dengan sumbur-sumber yang tercukupi dapat memberi dukung dalam bentuk, uang atau perhatian, dukungan nyata merupakan paling efektif bila dihargai oleh penerima dengan tepat. Pemberian dukungan nyata yang berakibat pada perasaan ketidakadekuatan dan behutang, akan benar-benar menambah stres individu (Niven, 2000).
2)      Dukungan Penghargaan
Kelompok dukungan dapat mempengaruhi presepsi individu akan ancaman. Dukungan sosial menyangga orang-orang untuk melawan stres dengan membantu mereka mendefinisikan kembali situasi tersebut sebagai ancaman kecil. Arahkanlah pada orang yang sama yang telah mengalami situasi yang sama untuk mendapatkan nasihat dan bantuan. Bagaimanapun, dukungan sosial hanya akan membantu jika stresor tersebut secara sosial dapat diterima; pasien kanker umumnya tidak ingin mendiskusikan penyakitnya karena cacad yang didapat pada kondisi tersebut dan tidak mencari bantuan dari pasien kanker lain agar tehindar dari ucapan umum bahwa mereka mengalami kanker (wortman & Dunkel-Schetter 1987). 
Dukungan sosial dapat juga membantu meningkatkan strategi koping individu dengan menyarankan strategi-strategi alternatif yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan dengan mengajak orang-orang berfokus da aspek-aspek yang lebih positif dari situasi tersebut (Niven,2000).
3)      Dukungan Emosional
Jika stres mngurangi perasaan seseorang akan hal dimiliki dan dicintai, dukungan emosional dapat menggantikannya atau menguatkan perasaan-perasaan ini. Stres yang tidak terkontrol dapat berakibat pada hilangnya harga diri.Jika hal ini terjadi, jaringan pendukung memainkan peran yang berarti dalam meningkatkan pendapat yang rendah terhadap diri sendiri. Kejadian-kejadian yang berakibat seseorang merasakan hilang perasaan memiliki dapat diperbaiki dengan bentuk dukungan yang mengembangkan hubungan personal yang relatif intim (Niven, 2000).
Jadi dukungan sosial hanya dapat lebih hanya dapat lebih efektif bila hubungan interpersonal seseorang memberikan sumber-sumber yang memenuhi keperluan koping dari suatu kejadian yang penuh stres.Hobfol (1988) berpendapat bahwa stres dipermudah oleh kehilangan, terancam kehilangan, dari sumber-sumber, apakah personal, fisik atau fisiologis.Individu merasakan stres bila sumber-sumber tampak seperti lebih banyak keluar.Jadi stres dan dukungan sosial sangat berhubungan dengan faktor-faktor personal dan jaringan sosial. Ringkasnya, banyak orang mengumpulkan informasi bagaimana menerima situasi yang penuh dengan stres dari teman-teman dan relasi-relasi mereka; sering mereka mendapat lebih banyak informasi dan dukungan dari jaringan sosial daripada tenaga kesehatan profesional; tenaga kesehatan profesional perlu menegosiasikan cara-cara mempengaruhi anggota-anggota jaringn individual untuk memberikan informasi, pelayanan dan dukungan dengan cara yang paling tepat (Niven,2000).
c.      Macam Dukungan Suami
Menurut Friedman (1998) dalam Prasetyawati (2011), dukungan suami terdiri dari 4 bentuk, yaitu dukungan informasional, penilaian, instrumental, dan emosional. Dalam semua tahapan, dukungan keluarga menjadikan keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal sehingga akan meningkatkan kesehatan dan adaptasi mereka dalam kehidupan (Prasetyawati, 2011 : 96).
Jenis dukungan keluarga ada empat menurut Friedman (1998), yakni :
1)      Dukungan Instrumental, yaitu keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit. 
2)      Dukungan Informasional, keluarga berfungsi sebagai sebuah konselor dan disseminator (penyebar informasi). 
3)      Dukungan Penilaian (Appraisal), yaitu keluarga bertindak mbimbing sebagai sebuah umpan-balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas keluarga. 

4)      Dukungan Emosional, yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. 



Teori Minat dan Teori Persepsi

1.      Minat
a.       Pengertian
Minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya (Notoatmodjo, 2003).
Minat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih (Sunaryo, 2004).
b.      Aspek-Aspek Minat
Aspek minat yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) adalah sebagai berikut :

1)      Aspek Kognitif
Berdasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari baik di rumah, sekolah dan masyarakat serta dan berbagai jenis media massa.
2)      Aspek Afektif
Konsep yang membangun aspek kognitif, minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting yaitu orang tua, guru dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.
3)      Aspek Psikomotor
Berjalan dengan lancar tanpa perlu pemikiran lagi, urutannya tepat. Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga keluwesan dan keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan lambat.
c.       Macam-Macam Minat
Macam-macam minat yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) dibedakan menjadi 2 yaitu :
1)      Minat primitif disebut pula minat biologis, yaitu minat yang berkisar soal makanan dan kebebasan aktifitas.
2)      Minat kultural disebut juga minat sosial yaitu minat yang berasal dari perbuatan yang lebih tinggi tarafnya.
d.      Cara Pembentukan Minat
Cara menimbulkan minat yang dikutip oleh Walgito (2001) adalah sebagai berikut:
1)      Membangkitkan suatu kebutuhan.
2)      Menghubungkan dengan pengalaman yang lampau.

3)      Memberikan kesempatan untuk mendapat hasil yang lebih baik.


2.      Persepsi
a.       Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu proses persepsi tidak lepas dari penginderaan, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Alat indera itu merupakan alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Stimulus yang diindera itu kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari , mengerti tentang apa yang diindera itu dan proses ini disebut persepsi.
b.      Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi
Seperti telah dipaparkan di atas, bahwa dalam persepsi individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus yang diterimanya, sehingga stimulus tersebut memiliki arti bagi individu yang bersangkutan.Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa stimulus merupakan salah satu faktor yang berperan dalam persepsi. Berkaitan dengan faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan adanya beberapa faktor, yaitu: 
1)      Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indra atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.Namun sebagian terbesar stimulus datang dari luar individu.
2)      Alat indera, syaraf dan pusat susunan syaraf
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus.Disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran.Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.
3)      Perhatian
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.

Dari hal-hal tersebut dapat dikemukakan bahwa untuk mengadakan persepsi adanya beberapa faktor yang berperan yang merupakan syarat agar terjadinya persepsi yaitu (1) objek atau stimulus yang dipersepsi; (2) alat indera dan syaraf-syaraf serta pusat susunan syaraf yang merupakan syarat fidiologis; (3) perhatian, yang merupakan syarat psikologis. ( Walgito, 2003 )