truth


counters

nama

Sunday, 9 March 2014

Pap Smear



Pap Smear (Papanicolaou Smear)

A.  PENGERTIAN

      Pap Smear adalah suatu pemeriksaan dengan cara mengusap leher rahim untuk mendapatkan sel-sel leher rahim untuk kemudian diperiksa, sel-sel tersebut akan dikirim untuk diperiksa dilaboratorium dengan proses tertentu, untuk dapat dianalisa apakah sel-sel yang merupakan sampel tersebut terjadi perubahan atau tidak (Winanto, H. 2008).
      Pap Smear adalah screening untuk mendeteksi perubahan sel-sel yang terjadi didalam serviks uterus. Perubahan sel rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut berkembang menjadi sel kanker. Artinya, semakin dini penyakit diketahui maka semakin mudah menanganinya (Anna, 2008).

B.  TUJUAN PAP SMEAR

a.       Tujuan Umum
Tes Pap Smear dapat memberikan informasi awal mengenai adanya gangguan atau masalah pada mulut rahim seorang perempuan. Jika ditemukan tanda-tanda abnormal pada hasil tes tersebut, dokter akan merekomendasikan untuk pemeriksaan lanjutan guna mengetahui lebih detail masalah yang terjadi.

b.      Tujuan Khusus
1.      Mencoba menemukan sel-sel yang tidak normal dan dapat berkembang menjadi kanker serviks
2.      Alat untuk mendeteksi adanya gejala pra kanker leher rahim bagi seseorang yang belum menderita kanker.     
3.      Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel kanker leher rahim.
4.      Mengetahui tingkat berapa keganasan serviks         

C.  MANFAAT PAP SMEAR

a.       Evaluasi sitohormonal
Penilaian hormonal pada seorang wanita dapat dievaluasi melalui pemeriksaan pap smear yang bahan pemeriksaanya adalah sekret vagina yang berasal dari dinding lateral vagina sepertiga bagian atas.

b.      Mendiagnosis peradangan
Peradangan pada vagina dan servik pada umumnya dapat didiagnosa dengan pemeriksaan pap smear . Baik peradangan akut maupun kronis. Sebagian besar akan memberi gambaran perubahan sel yang khas pada sediaan pap smear sesuai dengan organisme penyebabnya. Walaupun kadang-kadang ada pula organisme yang tidak menimbulkan reaksi yang khas pada sediaan pap smear.

c.       Identifikasi organisme penyebab peradangan
Dalam vagina ditemukan beberapa macam organisme/kuman yang sebagian merupakan flora normal vagina yang bermanfaat bagi organ tersebut. Pada umumnya organisme penyebab peradangan pada vagina dan serviks, sulit diidentifikasi dengan pap smear, sehingga berdasarkan perubahan yang ada pada sel tersebut, dapat diperkirakan organisme penyebabnya.

d.      Mendiagnosis kelainan prakanker (displasia) leher rahim dan kanker leher rahim dini atau lanjut (karsinoma/invasif)
pap smear paling banyak dikenal dan digunakan adalah sebagai alat pemeriksaan untuk mendiagnosis lesi prakanker atau kanker leher rahim. Pap smaer yang semula dinyatakan hanya sebagai alat skrining deteksi kanker mulut rahim, kini telah diakui sebagai alat diagnostik prakanker dan kanker leher rahim yang ampuh dengan ketepatan diagnostik yang tinggi, yaitu 96% terapi didiagnostik sitologi tidak dapat mengantikan diagnostik histopatologik sebagai alat pemasti diagnosis. Hal itu berarti setiap diagnosik sitologi kanker leher rahim harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi jaringan biobsi leher rahim, sebelum dilakukan tindakan sebelumya.

e.       Memantau hasil terapi
Memantau hasil terapi hormonal, misalnya infertilitas atau gangguan endokrin. Memantau hasil terapi radiasi pada kasus kanker leher rahim yang telah diobati dengan radiasi, memantau adanya kekambuhan pada kasus kanker yang telah dioperasi, memantau hasil terapi lesi prakanker atau kanker leher rahim yang telah diobati dengan elekrokauter kriosurgeri, atau konisasi.

D.  FAKTOR-FAKTOR YANG PENGARUHI PAP SMEAR

a.       Umur
Perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim paling sering ditemukan pada usia 35-55 tahun dan memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker leher rahim. Semakin tua umur seseorang akan mengalami proses kemunduran, sebenarnya proses kemunduran itu tidak terjadi pada suatu alat saja, tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia lebih lama kemungkinan jatuh sakit (Fitria, 2007).

b.      Sosial ekonomi
Golongan sosial ekonomi yang rendah sering kali terjadi keganasan pada sel-sel mulut rahim, hal ini karena ketidak mampuan melakukan pap smear secara rutin (Fitria, 2007).

c.       Paritas
Paritas adalah seseorang yang sudah pernah melahirkan bayi yang dapat hidup. Paritas dengan jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat mempunyai resiko terhadap timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim. Jika jumlah anak menyebabkan perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim yang dapat berkembang pada keganasan (Fitria, 2007).

d.      Usia wanita saat nikah
Usia menikah <20 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami perubahan sel-sel mulut rahim. Hal ini karena pada saat usia muda sel-sel rahim masih belum matang, maka sel-sel tersebut tidak rentan terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma dan segala macam perubahanya, jika belum matang, bisa saja ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak seimbang dan sel yang mati, sehingga kelebihan sel ini bisa merubah sifat menjadi sel kanker (Fitria, 2007).

E.  WANITA YANG DIANJURKAN PAP SMEAR

Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya mereka yang tinggi aktifitas seksualnya. Namun tidak menjadi kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas seksualnya memeriksakan diri, berikut ini adalah wanita-wanita
sasaran tes pap smear (Sukaca, 2009) yaitu:
a.       Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum menikah namun aktivitas seksualnya sangat tinggi.
b.      Setiap 6-12 bulan untuk wanita yang berganti ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HIV atau kutil kelamin.
c.       Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun.
d.      Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.
e.       Pap tes setahun sekali bagi wanita antara umur 40-60 tahun.
f.       Sesudah 2 kali pap tes (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa wanita resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap smear.
g.      Sesering mungkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker serviks.

F.   TEMPAT PEMERIKSAAN PAP SMEAR

Tempat pemeriksaan pap smear menurut Sukaca 2009 dapat dilakukan di:
a.       Rumah sakit pemerintah.
b.      Rumah sakit swasta.
c.       Laboratorium swasta, dengan harga yang cukup terjangkau.
d.      Tempat-tempat yang menyediakan fasilitas pap smear.
Bila hasil pada pasien pap smear ternyata positif, maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan biobsy terarah dan patologi. Pap smear sudah dapat menemukan kanker leher rahim. Meskipun masih ada tingkat pra kanker (stadium dini). Dengan pemeriksaan ini bisa memberikan harapan kesembuhan 100%. Sebaliknya pada penderita yang datang terlambat, harapan untuk sembuhpun terlampau sulit.





G. SYARAT PENGAMBILAN BAHAN

Penggunaan pap smear untuk mendeteksi dan mendiagnosis lesi prakanker dan kanker leher rahim, dapat menghasilkan interprestasi sitologi yang akurat bila memenuhi syarat (Romauli dan Vindari , 2011) yaitu:
a.       Bahan pemeriksaan harus berasal dari porsio leher rahim.
b.      Pengambilan pap smear dapat dilakukan setiap waktu diluar masa haid, yaitu sesudah hari siklus haid ketujuh sampai dengan masa pramenstruasi.
c.    Apabila klien mengalami gejala perdarahan diluar masa haid dan dicurigai penyebabnya kanker leher rahim, sediaan pap smear harus dibuat saat itu walaupun ada perdarahan.
d.      Pada peradangan berat, pengambilan sediaan ditunda sampai selesai pengobatan.
e.       Klien dianjurkan untuk tidak melakukan irigasi vagina (pembersihan vagina dengan zat lain), memasukkan obat melalui vagina atau melakukan hubungan seks sekurang-kurangnya 24 jam, sebaiknya 48 jam.
f.       Klien yang sudah menopause, pap smear dapat dilakukan kapan saja.

H.  KENDALA PAP SMEAR

Dilakukan diatas hanya 5% perempuan di Indonesia yang bersedia melakukan pemeriksaan pap smear banyak kendala. Hal tersebut terjadi antara lain:
a.       Kurangnya tenaga terlatih untuk pengambilan sediaan.
b.      Tidak tersedianya peralatan dan bahan untuk pengambilan sediaan.
c.       Tidak tersedianya sarana pengiriman sediaan.
d.      Tidak tersedianya laboratorium pemprosesan sediaan serta tenaga ahli sitologi.

I.     SYARAT PENDETEKSIAN PAP SMEAR

Hal-hal yang penting yang harus diperhatikan saat melakukan pap smear menurut (Sukaca, 2009) yaitu:
a.       Pengambilan dimulai minimal dua minggu setelah dan sebelum menstruasi sebelumnya.
b.      Pasien harus memberikan sejujur-jujurnya kepada petugas mengenai aktivitas seksualnya.
c.       Tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 1 hari sebelum pengambilan bahan pemeriksaan.
d.      Pembilasan vagina dengan bahan kimia tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelumnya.
e.       Hindarilah pemakaian obat-obatan yang tidak menunjang pemeriksaan pap smear.





J.    LANGKAH-LANGKAH PENGAMBILAN PAP SMEAR

a.       Persiapan pasien
1. Melakukan informent concent.
2. Menyiapkan lingkungan sekitar klien, tempat tidur ginekologi dan lampu sorot.
3. Menganjurkan klien membuka pakaian bagian bawah.
4. Menganjurkan klien berbaring ditempat tidur ginekologi dengan posisi litotomi.

b.      Persiapan alat

1.      Menyiapkan perlengkapan/bahan yang diperlukan seperti: handscoon, speculum cocor bebek, spatula ayre yang telah dimodifikasi, lidi kapas atau cytobrush, kaca objek glass, botol khusus berisi alkohol 95%, cytocrep atau hair spray, tampon tang, kasa steril pada tempatnya, formuler permintaan pemeriksaan sitologi pap smear, lampu sorot, waskom berisi larutan klorin 0,5%, tempat sampah, tempat tidur ginekologi, sampiran.
2.      Menyusun perlengkapan/bahan secara ergonomis.

c.       Pelaksanaan

1.      Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan metode tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk kering dan bersih.
2.      Mengunakan hanscun steril.
3.      Melakukan vulva higyene.
4.      Memperhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tanda infeksi.
5.      Memasang speculum dalam vagina.
6.      Masukkan spatula ayre kedalam mulut rahim, dengan ujung spatula yang berbentuk lonjong, apus sekret dari seluruh permukaan porsio serviks dengan sedikit tekanan dengan mengerakkan spatel ayre searah jarum jam, diputar melingkar 3600.
7.      Ulaskan secret yang telah diperoleh pada kaca object glass secukupnya, jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis.
8.      Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cara:
a) Fiksasi Basah
Fiksasi basah dibuat setelah sediaan diambil, sewaktu secret masih segar dimasukkan kedalam alkohol 95%. Setelah difiksasi selama 30 menit, sediaan dapat diangkat dan dikeringkan serta dikirim dalam keadaan keringterfiksasi atau dapat pula sediaan dikirim dalam keadaan terendam cairan fiksasi didalam botol.
b) Fiksasi Kering
Fiksasi kering dibuat setelah sediaan selesai diambil, sewaktu secret masih seger disemprotkan cytocrep atau hair spray pada object glass yang mengandung asupan secret tersebut dengan jarak 10-15 cm dari kaca object glass, sebanyak 2-4 kali semprotkan. Kemudian keringkan sediaan dengan membiarkannya diudara terbuka selama 5-10 menit. Setelah kering sediaan siap dikirimkan ke laboratorium sitologi untuk diperiksa bersamaan dengan formulir permintaan.
9.      Bersihkan porsio dan dinding vagina dengan kasa steril dengan menggunakan tampon tang.
10.  Keluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan.
11.  Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan.
12.  Rapikan ibu dan rendam alat-alat dan melepaskan sarung tangan (merendam dalam larutan clorin 0,5%).
13.  Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan metode tujuh langkah.
14.  Temui klien kembali.
15.  Mencatat hasil tindakan dalam status.

K. PENGELOMPOKAN PAP SMEAR

Pengelompokan atau Pengklasifikasian pap smear (Sukaca, 2009) yaitu:
a.       Kelas I
Pada kelas I identik dengan normal smear, pemeriksaan ulang 1 tahun lagi.
b.      Kelas II
Pada kasus II menunjukkan adanya infeksi ringan non spesifik, terkadang disertai dengan kuman atau virus tertentu, disertai pula dengan kariotik ringan. Pemeriksaan akan dilakukan 1 tahun lagi. Pengobatanya disesuaikan dengan penyebabnya. Bila ada radang bernanah maka akan dilakukan pemeriksaan ulang setelah pengobatan.
c.       Kelas III
Kelas III dapat ditemukan sel diaknostik sedang keradangan berat, periksa ulang dilakukan setelah pengobatan.
d.      Kelas IV
Dikelas IV telah ditemukan sel-sel yang telah mencurigakan dan ganas.
e.       Kelas V
Ditemukan sel-sel ganas.

L.  FAKTOR-FAKTOR YANG PENGARUHI HASIL PAP SMEAR

Faktor-faktor yang mempengaruhi (Sukaca, 2009) antara lain:
a. Cara pengambilan cairan yang tepat
Pengambilan cairan dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yaitu bisa terjadi kegagalan skrining (15%), interpretasi (23%), dan angka positif palsu (3-15%).

b. Petugas kesehatan
Kadang kala petugas kesehatan dapat salah tafsir dalam menginterprestasikan data. Kesalahan tersebut diantaranya:
1.      Kadang kala petugas kesehatan tidak mampu memberikan pelayanan dan memberikan jawaban yang baik.
2.      Petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan tes abnormal pap smear.
3.      Petugas tidak dapat mengindikasikan sel abnormal.

c. Laboratorium
Di dalam laboratorium juga dapat terjadi kesalahan, kasalahan yang lazim dilakukan dalam laboratorium adalah sebagai berikut:
1.      Laboratorium gagal dalam mendeteksi sel abnormal.
2.      Kegagalan dalam melaporkan kualitas cairan yang tidak memuaskan.
3.      Laboratoriun tidak mau melakukan pengulangan.
4.      Cairan fiksasi tidak menggunakan alcohol 95%.
5.      Cairan terlalu kering dan tipis.

d. Petugas Laboratorium
Terkadang petugas laboratorium juga melakukan suatu kesalahan antara lain:
1.      Cara petugas laboratoriunm tidak sesuai dengan prosedur.
2.      Reagen yang dipakai sudah kadaluarsa.
3.      Petugas tidak cakap dalam membacakan hasil pemeriksaan.
4.      Ketrampilan dan ketelitian petugas diragukan

e. Waktu pengambilan yang tepat
Waktu pemeriksaan pap smear yang tepat adalah saat anda telah menikah. Begitu halnya pada wanita yang memiliki tingkat seksualitas yang tinggi. Tes ini dianjurkan agar wanita dapat terbebas dari penyakit kanker leher rahim yang ganas.


Monday, 3 March 2014

makalah PERUBAHAN FISIOLOGIS MASA NIFAS DAN MENYUSUI Sistem Musculoskeletal, Endokrin, Tanda-Tanda Vital



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
     
      Masa nifas atau post partum disebut juga puerperium yang berasal dari bahasa latin yaitu kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” yang berarti melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas yaitu darah yang tertahan tidak bisa keluar dari rahim dikarenakan hamil. Maka ketika melahirkan, darah tersebut keluar sedikit demi sedikit. Darah yang keluar sebelum melahirkan disertai tanda-tanda kelahiran, maka itu termasuk darah nifas juga.
      Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Waktu masa nifas yang paling lama pada wanita pada umumnya 40 hari, dimulai sejak melahirkan atau sebelum melahirkan (yang disertai tanda-tanda kelahiran).
      Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun psikologis sebenarnya sebagian besar bersifat fisiologis, namun jika tidak dilakukan pendampingan melalui asuhan kebidanan maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi keadaan patologis, untuk itu perlu diperiksakan ke bidan atau dokter. Sehingga kita sebagai bidan harus mengetahui perubahan fisiologis, oleh sebab itu, penulis membuat makalah dengan judul “Perubahan Fisiologis Masa Nifas Dan Menyusui (Sistem Musculoskeletal, Endokrin, Tanda-Tanda Vital)”.

B.   Rumusan Masalah

      Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
A.    Bagaimana perubahan fisiologis masa nifas pada sistem musculoskeletal?
B.     Bagaimana perubahan fisiologis masa nifas pada sistem endokrin?
C.     Bagaimana perubahan fisiologis masa nifas pada tanda-tanda vital?

C.   Tujuan

      Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul “Perubahan Fisiologis Masa Nifas Dan Menyusui (Sistem Musculoskeletal, Endokrin, Tanda-Tanda Vital)” yaitu:
A.  Untuk Mengetahui perubahan fisiologis masa nifas pada sistem musculoskeletal
B.  Untuk Mengetahui perubahan fisiologis masa nifas pada sistem endokrin
C.  Untuk Mengetahui perubahan fisiologis masa nifas pada tanda-tanda vital



BAB II
PEMBAHASAN

A.    SISTEM MUSCULOSKELETAL
1.      Dinding perut dan Peritoneum
a.       Setelah persalinan, dinding perut longgar karena direnggang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu
b.      Hari pertama abdomen mononjol masih seperti masih seperti mengandung 2 minggu menjadi rilex, 6 minggu kembali seperti sebelum hamil.
c.       Kadang-kadang pada wanita terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fascia tipis dan kulit. Tempat yang lemah ini menonjol kalau berdiri atau mengejan.
d.      Bila kekuatan otot dinding perut tidak dicapai kembali, tidak ada kekuatan otot yang menyokong kehamilan berikutnya, sulitnya penurunan bagian terendah janin saat mengandung dan partus.
e.       Pengembalian tonus otot dengan latihan fisik dan ambulasi dini, secara alami dengan menurunnya progesteron.

2.      Diastasis Recti Abdominis
      Pada sebagian perempuan, kehamilan dapat menyebabkan pemisahan perut (diastasis recti), suatu kondisi dimana kedua sisi kanan dan kiri dari M. rektus abdominis “The Six-Pack” otot-otot menyebar terpisah di garis tengah tubuh, linea alba. Pemisahan terjadi karena tanggapan terhadap kekuatan rahim menekan dinding perut ketika hamil dan hormon melunakkan jaringan ikat. Diastasis recti mengurangi integritas dan kekuatan fungsional dinding perut serta dapat memperburuk nyeri punggung bawah dan ketidakstabilan pelvis.

3.      Kulit Abdomen
      Kulit abdomen yang melebar selama masa kehamilan tampak melonggar dan mengendur sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan yang di namakan strie. Melalui latihan postnatal, otot-otot dari dinding abdomen seharusnya dapat normal kembali dalam beberapa minggu.

4.      Striae
      Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar. Ibu postpartum memiliki tingkat diastasis sehingga terjadi pemisahan muskulus rektus abdominishal tersebut dapat dilihat dari pengkajian keadaan umum, aktivitas, paritas, jarak kehamilan yang dapat menentukan berapa lama tonus otot kembali normal

5.      Perubahan Ligamen
      Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sedia kala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan oleh karena ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.

6.      Simfisis Pubis
      Meskipun relatif jarang, tetapi simfisis pubis yang terpisah ini merupakan penyebab utama morbiditas maternal dan kadang-kadang penyebab ketidakmampuan jangka panjang. Hal ini biasanya di tandai oleh nyeri tekan signifikan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur atau saat berjalan. Pemisahan simfisis dapat di palpasi. Sering kali klien tidak mampu berjalan tanpa bantuan. Sementara pada kebanyakan wanita gejala menghilang setelah beberapa minggu atau bulan, pada beberapa wanita lain gejala dapat menetap sehingga diperlukan kursi roda.

B.     SISTEM ENDOKRIN
1.      Hormon Plasenta
      Selama periode pasca partum terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
      Penurunan hormon Human Plasenta Lactogen(HPL), estrogen dan progesteron serta plasental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada masa nifas. Ibu diabetik biasanya membutuhkan insulin dalam jumlah yang jauh  lebih kecil selama beberapa hari. Karena perubahan hormon normal ini membuat masa nifas menjadi suatu periode transisi untuk metebolisme karbohidrat, interpretasi tes toleransi glukosa lebih sulit pada saat ini.
      Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human Chorionic Gonadotropin(HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onzet pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.

2.      Hormon Oksitosin
      Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar bawah otak bagian belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin lagi dan ini membantu uterus kembali ke bentuk normal dan merangsang produksi ASI.
3.      Hormon Prolaktin
      Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Prolaktin darah meningkat dengan cepat, hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu atau 14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium ke arah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi dan menstruasi.

4.      Hipotalamik Pituitary Ovarium
      Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapat menstruasi. Sering kali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Diantara wanita laktasi sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Diantara wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi.

5.      Hormon Estrogen dan Progesteron
      Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam postpartum. Progesteron turun pada hari ketiga postpartum.



C.    TANDA-TANDA VITAL
            Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah sebagai berikut:
1.      Suhu
      Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,50C dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 80C. 24 jam post partum suhu badan akan naik sedikit (37,50C-380C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. Pada hari ketiga suhu badan akan naik lagi karena ada pembentukan ASI, buah dada akan menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus urogenitalis atau sistem lain. Kita anggap nifas terganggu kalau ada demam lebih dari 380C pada dua hari berturut-turut pada 10 hari yang pertama post partum, kecuali hari pertama dan suhu harus diambil sekurang-kurangnya 4x sehari.

2.      Nadi
      Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan postpartum yang tertunda. Sebagai wanita mungkin saja memiliki apa yang disebut bradikardi nifas (puerperal bradycardia). Hal ini terjadi segera setelah kelahiran dan bisa berlanjut sampai beberapa jam setelah kelahiran anak. Wanita semacam ini bisa memiliki angka denyut jantung serendah 40-50 detak per menit. Sudah banyak alasan-alasan yang diberikan sebagai kemungkinan penyebab, tetapi belum satupun yang sudah terbukti. bradycardia semacam itu bukanlah satu alamat atau indikasi adanya penyakit, akan tetapi sebagai satu tanda keadaan kesehatan.
3.      Pernapasan
      Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan. Pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula. Bila ada respirasi cepat postpartum(>30x/menit)mungkin karena adanya syok.

4.      Tekanan Darah
      Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya pre-eklamsi postpartum.


 

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
           
            Dari pembahasan yang telah kita buat dapat disimpulkan bahwasanya masa setelah persalinan disebut post partum atau masa nifas. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Selama pemulihan akan terjadi perubahan fisiologis diantaranya pada sistem musculoskeletal, sistem endokrin dan tanda-tanda vital.

B.   Saran
           
            Seorang bidan harus mengetahui perubahan fisiologis masa nifas pada sistem musculoskeletal, sistem endokrin, tanda-tanda vital.